"Memang untuk tahun ini kita juga melihat bahwa di beberapa segmen usaha kita perlu dilakukan kenaikan harga. Memang secara peluang untuk melakukan kenaikan harga itu cukup terbatas mengingat kondisi ekonomi yang cukup berat dengan pelemahan daya beli yang kita saksikan. Kenaikan harga ini hanya bisa dilakukan secara selektif, di beberapa produk-produk di dalam bisnis produk kesehatan," tuturnya.
Kartika menuturkan ruang kenaikan harga pada segmen obat resep juga terbatas akibat ketatnya persaingan obat generik serta komitmen perseroan mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sementara itu, bisnis nutrisi, termasuk susu bubuk, turut terdampak pelemahan daya beli konsumen.
Di sisi lain, Kalbe mengandalkan efisiensi sebagai langkah utama untuk menjaga margin. Perseroan mengoptimalkan proses produksi dan meningkatkan volume agar biaya produksi per unit lebih efisien, sekaligus memperketat pengelolaan beban operasional.
"Selain itu, tentunya di luar kenaikan harga, kita juga terus melakukan berbagai efisiensi, khususnya dari sisi proses produksi, bagaimana supaya bisa lebih efisien, meningkatkan volumenya supaya tentunya biaya produksi kita menjadi lebih optimal. Dan secara operating expenses (beban operasional) kita akan terus melakukan efisiensi, ini merupakan suatu upaya yang kami lakukan terus-menerus sebagai suatu perusahaan, supaya kita bisa melakukan perbaikan secara margin walaupun memang harus dilakukan secara bertahap," katanya.
Sepanjang Januari-Juni 2026, Kalbe mencatat kenaikan angka penjualan sebesar 14 persen menjadi Rp19,5 triliun. Namun, laba bersih turun menjadi Rp1,91 triliun, mencerminkan tekanan margin pada enam bulan pertama.
(Rahmat Fiansyah)