sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD

Market news editor Nia Deviyana
08/07/2026 15:56 WIB
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) dan kembali menembus level Rp18.000 per USD.
Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD. Foto: iNews Media Group.
Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD. Foto: iNews Media Group.

Sentimen lain datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun telah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meskipun demikian, pasar skeptis terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Juli mendatang, tetapi untuk September, kemungkinannya mendekati 60 persen, menurut CME FedWatch Tool.

Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Juni, yang akan dirilis Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed, sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian.

Dari domestik, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mengalami defisit Rp 196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun realisasi pendapatan negara Rp.1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp.1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.

Sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama jika dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun. Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tetapi tetap berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir. BI menjelaskan kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh bank sentral untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement