Ketahanan Pangan Indonesia, Ini Tantangan dan Peluang di 2020
Market News
Fahmi Abidin
Kamis, 10 Oktober 2019 11:15 WIB
Ketahanan pangan meupakan isu strategist di setiap negara. Melihat tantangan dan peluangnya di 2020, IDX Channel menyelenggarakan Economic Outlook.
Ketahanan Pangan Indonesia, Ini Tantangan dan Peluang di 2020. (Foto: Aldi/IDXChannel)

IDXChannel – Ketahanan pangan meupakan isu strategist di setiap negara, tidak terkecuali Indonesia. Melihat tantangan dan peluangnya di 2020, IDX Channel menyelenggarakan Special Event bertajuk "Economic Outlook : Ketahanan Pangan Indonesia".

Acara yang diadakan pada Kamis (10/10) di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, diharapkan dapat memberikan pandangan dan solusi Ketahanan Pangan di Indonesia.

Berdasarkan peringkat Global Food Safety Initiative (GSFI), Indonesia masih kalah dari Singapura. Padahal Indonesia memiliki luas ekonomi produktif yang lebih besar dibandingkan Singapura.

Meski demikian, potensi negeri Ini sangat besar. Indonesia disebut para ekonomi masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk mencapai ketahanan pangan yang kita inginkan.

Economic Outlook Ketahanan Pangan Indonesia turut dihadiri berbagai pihak mulai dari perwakilan Kementerian Pertanian, BUMN Berdikari, Bank Mandiri, dan peserta lainnya.

Sementara itu, BUMN pun didorong agar memiliki kontribusi penuh terhadap Ketahanan Pangan Indonesia, dan ikut mencari solusi dalam sistem agribisnis hingga dapat tercipta kemandirian pangan.

Tantangan yang terlihat sangat kompleks mulai dari detail permasalahan yang ada di sistem agribisnis, baik di bagian hulu, tengah, ataupun hilirnya. Mulai dari kualitas benih lokal yang belum baik, mahalnya harga pupuk, hingga minimnya riset menjadi soal utama.

“Sementara itu, dari segi proses penanamannya sendiri, permasalahan berkutat antara banyaknya perantara, akses petani pada dana yang terbatas, kurangnya aplikasi teknologi, tingkat pendidikan petani, hingga pengaruh perubahan iklim,” kata Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo, dalam keterangan tertulisnya, pada Selasa (8/10), di Jakarta.

Di sisi produksi dan distribusi, masalah yang terjadi adalah kurangnya hasil produksi, tingginya biaya produksi, hingga memburuknya kualitas pangan seiring jalannya distribusi. Di bagian hilir, permasalahan muncul pada saat produksi pangan, meliputi porsi bahan baku yang masih banyak diimpor, inefisiensi proses bisnis serta sektor pangan yang masih bertumpu pada UMKM.

“Berbagai permasalahan tersebut menjadi peringatan, mengingat sektor pangan adalah penyumbang terbesar kedua PDB Indonesia. Sektor ini juga penting karena lebih dari 35 juta orang (hampir seperdelapan jumlah penduduk) bekerja di dalamnya,” imbuhnya.

Hal tersebut ditambah fakta bahwa bahan baku pangan adalah faktor penentu pertama tingkat inflasi. “Ironisnya, nilai impor untuk bahan makanan mentah kita mencapai USD7,4 Miliar (untuk keperluan rumah tangga & industri pada tahun 2017) sehingga menyebabkan defisitnya neraca perdagangan sementara niat untuk mandiri terus menjadi rencana,” terang Eko Taufik Wibowo. (*)

Baca Juga