Menurut Direktur Utama GTSI, Yon Irawan, urgensi penambahan armada ini sejalan dengan status 'siaga satu' yang tengah melanda pasar energi dunia, sebagai imbas dari konflik militer antara Iran dan poros AS-Israel.
Sebagai informasi, selama ini keberadaan Selat Hormuz terbilang strategis dalam ekosistem energi global, dengan menjadi rute utama pengiriman 20 persen pasokan minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) global.
Sentimen kepanikan pasar ini langsung mengerek harga komoditas secara drastis pada akhir pekan lalu, di mana minyak Brent terpantau melesat 2,45 perseb ke level USD72,48 per barel, dan WTI naik 2,78 persen menjadi USD67,02 per barel.
"Aksi pemblokiran rute strategis ini adalah skenario ekstrem yang mengguncang ekonomi dunia. Ratusan kapal kini terpaksa membuang jangkar atau memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan," ujar Analis Energi dari MST Sydney, Saul Kavonic, dalam kesempatan yang sama.
Imbasnya, terjadi disrupsi logistik dan kelangkaan armada angkut di tengah lonjakan permintaan dari negara-negara importir energi di Asia.