IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 0,05 persen atau 9 poin ke level Rp17.943 per USD pada Kamis (25/6/2026).
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ditopang meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah tercapainya kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Kondisi tersebut mendorong normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz sehingga mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan minyak global dan menekan harga minyak mentah dunia.
"Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dalam sebuah forum bahwa aliran melalui Selat Hormuz hampir sama seperti sebelum dimulainya perang Iran, dengan mengatakan setidaknya 20 juta barel telah keluar dari selat dalam 24 jam terakhir," tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (25/6/2026).
Menurut Ibrahim, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kini hampir kembali ke kondisi normal. Selain itu, Oman telah membuka jalur sementara bagi kapal tanker, sementara sejumlah negara kawasan mulai membahas pengelolaan selat tersebut pascakonflik.
Meski harga minyak melemah, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar menunggu sejumlah data penting Amerika Serikat, termasuk inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026, dan klaim pengangguran mingguan yang akan menjadi petunjuk arah suku bunga ke depan.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keyakinan pemerintah bahwa perekonomian Indonesia tetap solid di tengah gejolak global. Ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah kini hanya sekitar 20 persen setelah dilakukan diversifikasi pasokan dari sejumlah negara lain.
Fundamental ekonomi domestik juga dinilai masih kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, cadangan devisa USD144,9 miliar per akhir Mei 2026, realisasi investasi Rp498,8 triliun pada kuartal pertama, serta PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansi.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia terus menyusut meskipun masih mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut. Karena itu, pemerintah terus mendorong sektor-sektor penghasil devisa, termasuk pariwisata.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.940-Rp17.990 per USD.
(DESI ANGRIANI)