Meski harga minyak melemah, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar menunggu sejumlah data penting Amerika Serikat, termasuk inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026, dan klaim pengangguran mingguan yang akan menjadi petunjuk arah suku bunga ke depan.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keyakinan pemerintah bahwa perekonomian Indonesia tetap solid di tengah gejolak global. Ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah kini hanya sekitar 20 persen setelah dilakukan diversifikasi pasokan dari sejumlah negara lain.
Fundamental ekonomi domestik juga dinilai masih kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, cadangan devisa USD144,9 miliar per akhir Mei 2026, realisasi investasi Rp498,8 triliun pada kuartal pertama, serta PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansi.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia terus menyusut meskipun masih mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut. Karena itu, pemerintah terus mendorong sektor-sektor penghasil devisa, termasuk pariwisata.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.940-Rp17.990 per USD.
(DESI ANGRIANI)