”Karakteristik kontrak jangka panjang seperti ini menjadi salah satu keunggulan segmen offshore dibandingkan dry bulk, karena skema kontrak dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) umumnya lebih stabil terhadap fluktuasi harga komoditas maupun gejolak pasar jangka pendek,” ujar Efilya.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Utama ELPI Eka Taniputra menegaskan, perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga kinerja ke depan, salah satunya melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
”Kami memandang koreksi kinerja pada semester ini sebagai bagian dari dinamika eksternal yang memang tidak dapat dihindari oleh pelaku industri maritim secara umum,” kata Eka.
Selain itu, kata dia, meskipun gejolak geopolitik di Timur Tengah tidak berdampak langsung terhadap operasional perseroan, kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika harga minyak dan keputusan investasi di sektor energi. Hal ini berdampak pada beberapa proyek yang mengalami penundaan hingga pembatalan.