Risikonya dapat menjadi lebih besar apabila fasilitas Rp6 triliun milik BYAN dan pinjaman JARR yang telah ada turut diperhitungkan sebagai bagian dari eksposur Grup Jhonlin setelah kepemilikan 30,25 persen di BYAN.
Dalam skenario tersebut, total eksposur terhadap grup dapat mencapai sekitar 19 persen dari modal Tier 1 atau sekitar 77 persen dari batas BMPK.
Ruang BMRI untuk memperbesar eksposur tersebut juga dinilai terbatas.
Dengan asumsi laba bersih proyeksi tahun buku 2026 (FY26F) sebesar Rp57 triliun dan rasio pembayaran dividen 75-80 persen, termasuk dividen interim Rp6,2 triliun yang telah dibayarkan pada 2 Oktober 2026, Nurkholis memperkirakan modal Tier 1 BMRI hanya kembali ke sekitar Rp246-249 triliun pada Juni 2027 setelah pembayaran dividen final.
Artinya, modal Tier 1 diperkirakan berada pada level yang kurang lebih sama atau bahkan sedikit di bawah posisi 9M26 karena sebagian besar pembentukan modal secara organik akan kembali didistribusikan kepada pemegang saham.
Dalam kondisi tersebut, ruang BMPK BMRI terhadap Grup Jhonlin diperkirakan hanya sekitar Rp13-14 triliun.