IDXChannel - Sejarah Saham INDF atau kode saham dari perusahaan Grup Salim yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk memang sangat menarik untuk diulas. Hal ini karena laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 16% dari Rp 3,43 triliun menjadi Rp 2,90 triliun, mencerminkan peningkatan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan.
Menurut data tim riset IDX Channel, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INDF turun 3,08% menjadi Rp6.300 per saham pada pukul 14:25 WIB pekan lalu, dengan volume perdagangan Rp120,18 miliar dan volume perdagangan 19,19 juta saham. Penurunan tersebut membuat saham INDF turun 5,64% dalam seminggu dan 5,97% dalam sebulan.
Sejarah Saham INDF
PT Indofood Sukses Makmur Tbk Didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 oleh Sudono Salim dengan nama PT Panganjaya Intikusuma. Kemudian, pada tanggal 5 Februari 1994, nama perusahaan diubah menjadi PT Indofood Sukses Makmur. Namun nyatanya, bisnis di Bogasari sudah ada sejak tahun 1969.
Pada tahun yang sama berdirinya pada tahun 1994, INDF melakukan IPO atau IPO setelah menerima pernyataan yang sah dari Bapepam-LK. Saat itu, 21.000.000 saham ditawarkan ke publik dengan harga Rp1000 per saham.
Kemudian untuk pertama kalinya PT. Indofood Sukses Makmur tercatat di BEI pada tanggal 14 Juli 1994. Harga penawaran saham INDF saat itu adalah Rp6200 per saham. Sejauh ini, ini berarti INDF telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 26 tahun.
Di BEI, INDF termasuk dalam IDX30, LQ45, JII, ISSI, dan Indeks Saham Emiten Syariah. Sejak awal berdirinya hingga saat ini, INDF telah tumbuh menjadi perusahaan raksasa, mengekspor bahan makanan ke berbagai negara dan pantas menjadi salah satu pemimpin di bidangnya.
Oleh karena itu, tidak heran jika saham INDF menjadi salah satu saham favorit yang menjadi koleksi banyak investor. Beberapa merek produk INDF yang sudah dikenal masyarakat luas seperti Indomie, Pop mie, Chitato, Lays, Cheetos, Maggi dan Indofood racik.
Laporan Keuangan INDF
PT Indofood Sukses Makmur (INDF) membukukan penjualan bersih Rp52,79 triliun pada semester I 2022. Meningkat 12% dari Rp 47,29 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba usaha meningkat 4% menjadi Rp8,83 triliun dari Rp8,49 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Margin usaha turun dari 17,9% menjadi 16,7%. Laba bersih turun 16% menjadi Rp2,90 triliun dari Rp3,43 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan karena kenaikan rugi selisih kurs tidak terealisasi dari aktivitas pendanaan.
Margin laba bersih mencapai 5,5%, naik dari 7,3% pada periode tahun sebelumnya. Tidak termasuk item satu kali dan selisih kurs, laba inti meningkat 2% menjadi Rp4 triliun dari Rp3,92 triliun pada periode yang sama tahun lalu. (SNP)