Indo Premier juga mengingatkan potensi risiko pada segmen mikro, khususnya bagi BBRI, apabila terjadi perubahan kebijakan subsidi atau asuransi Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di sisi lain, biaya dana (cost of fund) diperkirakan tetap tinggi akibat kondisi likuiditas yang ketat.
Sementara itu, biaya kredit (cost of credit/CoC) diproyeksikan relatif stabil pada 2026.
Indo Premier menilai kualitas aset korporasi masih lebih tangguh dibandingkan segmen konsumer dan UMKM. Rasio kredit bermasalah (NPL) korporasi bank besar tercatat jauh lebih rendah dibandingkan kredit mikro dan ritel.
Secara keseluruhan, Indo Premier memperkirakan pertumbuhan laba bank besar sekitar 5-6 persen pada 2026, sedikit di bawah konsensus pasar yang berada di kisaran 7-10 persen.
Namun, valuasi sektor dinilai menarik, dengan perbankan saat ini diperdagangkan di 1,9 kali price to book value (PBV) dan 10,9 kali price to earnings (P/E), atau sekitar minus satu standar deviasi dari rata-rata 10 tahun.