"Hasilnya, perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan," ujarnya dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (30/4/2026).
Di tengah kondisi curah hujan yang ekstrem, kata dia, kinerja penjualan hanya turun 1 persen secara YoY walaupun volume produksi turun 22 persen YoY. Meskipun secara YTD harga batu bara mengalami perbaikan, namun harga jual rata-rata (ASP) relatif hanya naik 1 persen YoY.
Kemudian, beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp8,39 triliun, atau turun sebesar 6 persen secara YoY. Penurunan ini seiring dengan penurunan volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 22 persen YoY maupun angkutan yang juga turun 7 persen YoY.
Arsal menerangkan, konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM per liternya, meskipun untuk periode ini masi relatif kecil.