Situational Awareness dipimpin oleh Leopold Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI yang masih berusia pertengahan 20-an.
Ia dikenal luas setelah menerbitkan esai mengenai prospek AI pada 2024, yang membuat pandangannya banyak diikuti oleh investor maupun pelaku industri.
Namun, jebloknya saham-saham AI dalam beberapa pekan terakhir membalikkan keadaan.
Kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal (capex) perusahaan AI serta tingginya biaya pinjaman memicu aksi jual di sektor teknologi, sehingga menekan nilai portofolio Situational Awareness.
WSJ melaporkan bahwa perusahaan tersebut menggunakan dana pinjaman (leverage) untuk memperbesar investasinya. Ketika harga saham terus turun, Situational menghadapi tuntutan tambahan jaminan (margin call) dari para krediturnya sehingga harus mencari likuiditas.