sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

MAPA Dinilai Tetap Tangguh Meski Tekanan Makro Meningkat

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
06/07/2026 10:14 WIB
Prospek PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dinilai masih cukup tangguh di tengah tekanan ekonomi.
MAPA Dinilai Tetap Tangguh Meski Tekanan Makro Meningkat. (Foto: MAP)
MAPA Dinilai Tetap Tangguh Meski Tekanan Makro Meningkat. (Foto: MAP)

IDXChannel - Prospek PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dinilai masih cukup tangguh di tengah tekanan ekonomi.

Meski demikian, keduanya memangkas proyeksi laba dan target harga saham seiring perlambatan ekspansi gerai serta meningkatnya risiko makroekonomi.

Dalam riset yang diterbitkan pada 2 Juli 2026, analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI), Baruna Arkasatyo dan Edward Halim, menyebut kenaikan harga bahan bakar (BBM) nonsubsidi maupun solar selama tahun ini diperkirakan tidak banyak memengaruhi belanja masyarakat berpendapatan menengah atas, yang menjadi segmen utama MAPA.

Pemerintah diketahui telah menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen pada 10 Juni 2026, disusul kenaikan harga solar sebesar 10-17 persen pada 4 Mei 2026.

Namun, berdasarkan pengalaman pada periode 2019 maupun 2022, kenaikan harga BBM tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan peritel yang menyasar konsumen menengah atas maupun jaringan minimarket.

Bahkan, pada 2022-2023, sektor ritel sempat menikmati lonjakan penjualan saat fenomena revenge spending meski harga energi sedang meningkat akibat perang Rusia-Ukraina.

Di sisi lain, CGSI mengingatkan bahwa risiko terbesar bagi MAPA justru berasal dari gangguan mobilitas masyarakat. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan pembatasan aktivitas dan penutupan pusat perbelanjaan memberikan tekanan besar terhadap pendapatan peritel.

Karena itu, kebijakan pemerintah seperti penerapan kembali pola kerja dari rumah (work from home) maupun potensi kerusuhan yang mengganggu aktivitas di pusat perbelanjaan menjadi risiko yang perlu dicermati investor.

Selain itu, analis juga menilai penyusutan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia menjadi tantangan yang lebih bersifat struktural.

Meski demikian, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat serta portofolio produk olahraga dan gaya hidup yang dimiliki MAPA diyakini dapat membantu perseroan menangkap permintaan konsumen yang beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau (down-trading), sehingga menjaga ketahanan penjualan.

Sejalan dengan prospek tersebut, CGSI menurunkan proyeksi kinerja MAPA untuk periode 2026-2028.

Proyeksi penjualan tahun 2026 dipangkas sekitar 8 persen, sementara estimasi laba per saham (EPS) diturunkan 5 persen agar lebih selaras dengan panduan manajemen yang memperkirakan pertumbuhan penjualan toko yang sama (same store sales growth/SSSG) hanya berada pada kisaran satu digit rendah, pertumbuhan penjualan satu digit tinggi, margin laba kotor 46-47 persen, dan margin EBIT sekitar 12 persen.

Untuk 2027-2028, CGSI memangkas proyeksi penjualan sebesar 9-11 persen dan EPS sebesar 14-19 persen.

Revisi tersebut didorong oleh penurunan target pembukaan gerai baru menjadi sekitar 300 toko per tahun dari sebelumnya 380-450 gerai, serta penyesuaian proyeksi margin laba kotor menjadi 46,0-46,5 persen akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Di sisi lain, laju ekspansi yang lebih lambat diperkirakan turut menekan kenaikan beban operasional.

Meski memangkas estimasi laba, CGSI tetap mempertahankan rekomendasi Add untuk saham MAPA. Target harga saham diturunkan menjadi Rp750 dari sebelumnya Rp1.010.

Dalam metodologi CGSI, rekomendasi Add berarti saham tersebut diperkirakan mampu memberikan total imbal hasil (total return) lebih dari 10 persen dalam 12 bulan ke depan.

Menurut CGSI, valuasi MAPA saat ini masih menarik karena diperdagangkan pada 9,2 kali proyeksi price-to-earnings (P/E) 2026, atau sekitar 38 persen lebih rendah dibandingkan perusahaan sejenis di kawasan Asia Pasifik.

Analis menilai MAPA tetap berada pada posisi yang baik untuk menghadapi tekanan ekonomi berkat ketahanan bisnisnya di segmen konsumen menengah atas.

Ke depan, disiplin fiskal pemerintah yang lebih kuat serta stimulus konsumsi berpotensi menjadi katalis positif bagi saham MAPA.

Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan, kenaikan biaya produksi, serta gangguan terhadap lalu lintas pengunjung pusat perbelanjaan dan mobilitas masyarakat masih menjadi risiko utama yang perlu diperhatikan investor. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement