Sebagai gambaran, teknologi FWA bekerja dengan menyalurkan akses internet dari jaringan backbone ke menara pemancar, lalu diteruskan ke pengguna melalui spektrum frekuensi 1,4 GHz.
Karakteristik frekuensi ini memiliki jangkauan relatif terbatas, sehingga perangkat pemancar umumnya ditempatkan pada ketinggian sekitar 25-35 meter untuk menjaga kualitas sinyal.
Dalam konteks pengembangan jaringan, Gani memperkirakan kebutuhan menara untuk mendukung layanan FWA di Indonesia dapat mencapai sedikitnya 8.000 unit.
“Memang tidak semua akan diambil MTEL, tapi dengan kekuatan tower terbanyak di Indonesia secara wajar mereka akan mendapatkan porsi lebih banyak,” ujarnya.
Gani memperkirakan, dengan tambahan sekitar 2.000 penyewa pada 2025, tenancy ratio MTEL dapat meningkat dari 1,52x menjadi 1,57x. Dengan asumsi tersebut, ia menilai rasio ini berpotensi menembus level 1,6x apabila program FWA berjalan optimal.