IDXChannel – Keputusan MSCI memperpanjang evaluasi (review) status pasar Indonesia hingga Juni 2026 dinilai menjaga ketidakpastian di pasar, di tengah potensi penurunan bobot (downweight) dan arus dana keluar (outflow) yang masih membayangi.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana dalam riset 21 April 2026 menyebut, MSCI masih berada dalam fase ‘menunggu’ sambil mengumpulkan masukan pelaku pasar atas reformasi yang dilakukan Indonesia.
Selama periode ini, MSCI membekukan penambahan saham baru, peningkatan status, serta penyesuaian free float. Keputusan final diperkirakan diumumkan pada pekan ketiga atau keempat Juni 2026.
Pada rebalancing Mei 2026, MSCI akan menghapus saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Grup Barito dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) besutan Grup Sinarmas yang masuk daftar konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) BEI.
Selain itu, penggunaan data kepemilikan di atas 1 persen berpotensi menekan bobot sejumlah saham akibat penurunan free float.
CGSI memperkirakan arus keluar dana pasif sekitar USD2 miliar atau setara dengan Rp34 triliun, yang sebagian besar berasal dari segmen Standard Cap, dan diperkirakan terjadi pada 29 Mei 2026, sehari sebelum rebalancing efektif.
Namun, tekanan tersebut dinilai sudah cukup diantisipasi pasar.
“Kami menilai arus keluar dana pasif tersebut kemungkinan besar sudah sebagian besar tercermin dalam pergerakan pasar,” tulis analis CGSI.
Sejak peringatan MSCI pada 27 Januari 2026, IHSG telah mencatatkan net foreign outflow atau arus keluar dana asing sekitar USD2,48 miliar.
Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets pun berpotensi turun dari 0,84 persen menjadi 0,65 persen.
Di sisi lain, pernyataan terbaru MSCI dinilai lebih netral dibandingkan sebelumnya, sehingga memberi sentimen sedikit positif.
Meski begitu, risiko tambahan masih terbuka. Selain potensi penyesuaian free float oleh MSCI, investor juga perlu mencermati langkah FTSE.
Jika FTSE mengadopsi pendekatan serupa dalam evaluasinya pada 22 Mei 2026, CGSI memperkirakan potensi tambahan arus keluar dana pasif sekitar USD550 juta, yang bisa terjadi pada 19 Juni 2026.
Di luar itu, risiko lain berasal dari kemungkinan perubahan metodologi free float MSCI yang dapat mengecualikan sebagian kategori investor dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Skenario ini secara teoretis dapat memicu tambahan outflow hingga USD2 miliar, meski peluangnya dinilai kecil dan paling cepat terjadi pada evaluasi Agustus 2026.
CGSI berpandangan penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market masih kecil kemungkinannya saat ini.
Namun, kewaspadaan investor diperkirakan meningkat menjelang pertengahan Juni, mendekati pengumuman akhir MSCI.
“Base case kami, MSCI akan mencabut pembekuan pada Juni 2026 tanpa tambahan kebijakan negatif,” tulis CGSI.
Sejumlah katalis yang perlu dicermati meliputi rilis data kepemilikan di atas 1 persen pada awal Mei dan Juni, pengumuman FTSE pada 22 Mei, serta publikasi data free float MSCI.
Data free float bulanan MSCI pada awal Mei akan menjadi indikator awal, sementara penyesuaian bobot saham berpotensi dilakukan dalam review kuartalan pada 12 Mei 2026.
Dari sisi strategi, CGSI mempertahankan BBNI, EXCL, ARCI, CMRY, MYOR, HMSP, GGRM, dan WIIM sebagai pilihan utama.
Sementara itu, MEDC, DSNG, dan TAPG ditambahkan seiring prospek kenaikan kinerja berbasis harga minyak dan program biodiesel B50.
Di sisi lain, BBCA dan BMRI dikeluarkan dari daftar saham unggulan karena pertumbuhan laba tahunan yang mulai melambat. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.