IDXChannel – Permintaan semen nasional dinilai mulai menunjukkan tanda pemulihan berkelanjutan, meskipun jumlah hari kerja pada Februari lebih sedikit dibandingkan bulan sebelumnya.
Riset Indo Premier Sekuritas yang dirilis pada 16 Maret 2026 mencatat, secara nasional volume penjualan semen pada Februari 2026 mencapai 4,9 juta ton atau tumbuh 5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meski turun 9 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/mom).
Kinerja ini dinilai cukup solid mengingat Februari hanya memiliki 18 hari kerja, lebih sedikit dibandingkan 20 hari pada Januari.
Permintaan dalam bentuk kantong (bag) menjadi pendorong utama dengan kenaikan 6 persen yoy, sementara segmen curah (bulk) tumbuh lebih moderat sebesar 3 persen yoy.
Secara historis, penurunan bulanan pada Februari biasanya mencapai sekitar 11 persen dalam lima tahun terakhir, sehingga pelemahan bulan ini dinilai lebih baik dari pola musiman.
Dari sisi wilayah, pertumbuhan di Pulau Jawa tercatat sebesar 5 persen yoy, didorong oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Namun, Jakarta justru mengalami kontraksi. Sementara itu, wilayah luar Jawa (ex-Java) mencatat kinerja lebih kuat dengan pertumbuhan 6 persen yoy, terutama ditopang oleh Bali dan Nusa Tenggara serta Sumatra yang terdorong aktivitas rekonstruksi pascabanjir.
Kinerja emiten juga mencerminkan tren tersebut. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mencatat pertumbuhan volume 5 persen yoy pada Februari, ditopang lonjakan penjualan semen kantong sebesar 9 persen yoy.
Pertumbuhan terutama berasal dari wilayah luar Jawa, termasuk Indonesia Timur, Sulawesi, dan Sumatra.
Sebaliknya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat pertumbuhan lebih terbatas, yakni 2 persen yoy. Kinerja ini tertekan oleh penurunan permintaan di Jawa, meski masih ditopang oleh peningkatan volume curah serta pertumbuhan signifikan di wilayah luar Jawa.
Secara kumulatif, selama dua bulan pertama 2026, volume semen nasional tumbuh 8 persen yoy menjadi 10,4 juta ton. Semen Indonesia (SMGR) mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 10 persen yoy, sementara Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) tumbuh tipis 1 persen yoy.
Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor semen. Namun, mereka melihat pemulihan permintaan berpotensi berlanjut setelah periode Lebaran, terutama di luar Jawa.
Pemulihan ini didukung oleh berlanjutnya rekonstruksi di Sumatra, masuknya musim kemarau, serta potensi tambahan permintaan dari program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Dari sisi valuasi, sektor semen saat ini dinilai masih relatif murah, dengan rasio EV/EBITDA sekitar 4,8 kali, jauh di bawah rata-rata historis 10 tahun yang berada di level 10,3 kali. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.