Secara kumulatif, selama dua bulan pertama 2026, volume semen nasional tumbuh 8 persen yoy menjadi 10,4 juta ton. Semen Indonesia (SMGR) mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 10 persen yoy, sementara Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) tumbuh tipis 1 persen yoy.
Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor semen. Namun, mereka melihat pemulihan permintaan berpotensi berlanjut setelah periode Lebaran, terutama di luar Jawa.
Pemulihan ini didukung oleh berlanjutnya rekonstruksi di Sumatra, masuknya musim kemarau, serta potensi tambahan permintaan dari program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Dari sisi valuasi, sektor semen saat ini dinilai masih relatif murah, dengan rasio EV/EBITDA sekitar 4,8 kali, jauh di bawah rata-rata historis 10 tahun yang berada di level 10,3 kali. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.