Ruang substitusi ke batu bara PCI dinilai semakin terbatas, sehingga membuka peluang kenaikan permintaan batu bara kokas.
Untuk katalis positif sektor, JPMorgan menyoroti tiga faktor utama. Pertama, potensi penurunan produksi batu bara domestik China dalam program anti-involution yang bisa mendorong impor dari Indonesia.
Kedua, pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS yang menguntungkan emiten berpendapatan dolar AS. Ketiga, premi risiko geopolitik yang berpotensi menopang harga komoditas.
Sementara, risikonya meliputi penurunan impor China yang lebih dalam dari perkiraan, pelemahan lanjutan produksi baja global yang menekan permintaan batu bara metalurgi, serta pengetatan kebijakan ESG yang membatasi minat investor terhadap saham batu bara.
Dari sisi rekomendasi saham, JPMorgan memberikan neutral (N) untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan underweight (UW) untuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA).