Emas menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA MDKA pada kuartal I dengan kontribusi sebesar ASD89 juta, diikuti Nickel Pig Iron (NPI)USD67 juta, limonit sebesar UYD48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) USD25 juta, dan tembaga sebesar USD19 juta. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan MDKA dalam menangkap peluang penguatan margin melalui portofolio logam yang terdiversifikasi.
Total produksi emas MDKA meningkat 5 persen secara tahunan menjadi 26.652 ounces pada kuartal I 2026, terutama didukung oleh kontribusi produksi perdana dari Tambang Emas Pani yang dioperasikan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Tambang Emas Tujuh Bukit mencatat harga jual rata-rata sebesar USD4.841 per ounce, dengan biaya kas sebesar USD685 per ounce termasuk royalti dan kredit perak, sehingga menghasilkan margin tunai sebesar USD4.156 per ounce.
Pada segmen nikel, kinerja PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditopang oleh peningkatan volume penjualan bijih serta membaiknya harga jual. Volume bijih yang ditambang meningkat 143 persen secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal I 2026, didorong oleh kenaikan produksi limonit dan saprolit.
Margin nikel tetap kuat, dengan saprolit dan limonit masing-masing mencatat margin tunai sebesar 14 persen dan 50 persen. Sementara itu, NPI mencatat margin kas sebesar 29 persen, didukung oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi dan berkurangnya ketergantungan terhadap saprolit pihak ketiga.
MDKA juga terus memajukan sejumlah platform pertumbuhan utama selama dan setelah periode pelaporan. Proyek Tembaga Tujuh Bukit saat ini berada dalam tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study), dengan penyelesaian ditargetkan pada semester II-2026. Di Pani, EMAS mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana untuk prospek Kolokoa, yang meningkatkan total sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari 7,0 juta ounces menjadi sekitar 7,4 juta ounces emas.