Dari sektor perbankan, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai industri masih menghadapi tantangan likuiditas meski pertumbuhan kredit tetap solid. Perubahan kebijakan giro wajib minimum (reserve requirement) yang mulai berlaku pada September 2026 juga diperkirakan akan memengaruhi masing-masing bank secara berbeda.
“Meskipun terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih tetap ketat seiring dengan kuatnya pertumbuhan kredit,” kata Nurkholis.
Ia menjelaskan, perbedaan kondisi likuiditas dan struktur permodalan membuat prospek pertumbuhan setiap bank tidak seragam. Karena itu, investor dinilai perlu lebih selektif dalam menilai emiten perbankan yang memiliki ruang ekspansi lebih baik di tengah perubahan lanskap industri.
Mirae Asset juga melihat kebutuhan investor terus berkembang di tengah kondisi pasar yang semakin dinamis. Selain akses terhadap beragam instrumen investasi, investor dinilai memerlukan strategi pengelolaan aset yang disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan jangka panjang.
Dengan bergesernya fokus pasar ke faktor domestik, kualitas kebijakan ekonomi dan kinerja fundamental emiten diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan pasar pada paruh kedua 2026.
(Shifa Nurhaliza Putri)