sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mirae Asset: Ruang Penguatan Pasar Domestik Masih Terbuka, Investor Diminta Cermati Risiko

Market news editor Shifa Nurhaliza Putri
16/08/2026 15:50 WIB
Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan rupiah dinilai memberikan ruang yang lebih baik bagi otoritas untuk menjaga stabilitas.
Mirae Asset: Ruang Penguatan Pasar Domestik Masih Terbuka, Investor Diminta Cermati Risiko. (Foto: Ilustrasi)
Mirae Asset: Ruang Penguatan Pasar Domestik Masih Terbuka, Investor Diminta Cermati Risiko. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar domestik masih memiliki peluang menguat pada paruh kedua 2026 seiring mulai meredanya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan rupiah dinilai memberikan ruang yang lebih baik bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor domestik yang dinilai semakin menentukan arah pasar, mulai dari inflasi, stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, hingga kualitas pertumbuhan ekonomi dan laba emiten.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan fokus investor secara bertahap bergeser dari risiko global menuju fundamental domestik seiring berkurangnya tekanan dari eksternal.

“Ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, tetapi dengan profil risiko yang semakin berimbang. Perhatian investor akan semakin bergeser pada kualitas pertumbuhan dan konsistensi kebijakan domestik, termasuk realisasi fiskal, perkembangan inflasi, serta efektivitas transmisi likuiditas ke sektor produktif,” ujar Rully.

Menurutnya, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menopang sentimen pasar pada sisa tahun ini.

Dari sektor perbankan, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai industri masih menghadapi tantangan likuiditas meski pertumbuhan kredit tetap solid. Perubahan kebijakan giro wajib minimum (reserve requirement) yang mulai berlaku pada September 2026 juga diperkirakan akan memengaruhi masing-masing bank secara berbeda.

“Meskipun terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih tetap ketat seiring dengan kuatnya pertumbuhan kredit,” kata Nurkholis.

Ia menjelaskan, perbedaan kondisi likuiditas dan struktur permodalan membuat prospek pertumbuhan setiap bank tidak seragam. Karena itu, investor dinilai perlu lebih selektif dalam menilai emiten perbankan yang memiliki ruang ekspansi lebih baik di tengah perubahan lanskap industri.

Mirae Asset juga melihat kebutuhan investor terus berkembang di tengah kondisi pasar yang semakin dinamis. Selain akses terhadap beragam instrumen investasi, investor dinilai memerlukan strategi pengelolaan aset yang disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan jangka panjang.

Dengan bergesernya fokus pasar ke faktor domestik, kualitas kebijakan ekonomi dan kinerja fundamental emiten diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan pasar pada paruh kedua 2026.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement