Menurut Erindra, dalam skenario terburuk, Indonesia berpotensi kehilangan dana asing hingga USD15-USD20 miliar sejalan dengan bobot Indonesia dalam indeks MSCI sebesar 1,1 persen. Jika Indonesia masuk Frontier Market, dana asing yang masuk bakal jauh lebih kecil dibanding Emerging Market.
"Saham-saham berkapitalisasi besar dalam daftar 10 indeks MSCI teratas yang mencakup sekitar 80 persen kapitalisasi pasar saham Indonesia di indeks MSCI akan menjadi pihak yang paling terdampak dalam skenario rebalancing tersebut," ujarnya.
Erindra mendorong investor untuk berinvestasi di saham-saham fundamental, terutama dengan kepemilikan asing yang rendah. Sejumlah saham yang dinilai menarik di antaranya ANTM, AADI, ICBP, hingga JPFA.
"Selain risiko terkait MSCI dan arus dana, risiko utama pasar mencakup pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan domestik," katanya.
(Rahmat Fiansyah)