IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026). Mata uang Garuda turun 45 poin atau sekitar 0,25 persen ke level Rp17.952 per USD.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai salah satu sentimen yang mendorong pelemahan rupiah yaitu data-data ekonomi dalam negeri di mana Neraca Perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit USD1,61 miliar.
Kondisi defisit disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar USD24,81 miliar, sedangkan ekspor RI USD23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
“Defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas yang defisit USD3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah. Adapun dari catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16 persen jika dibandingkan Mei 2025. BPS mencatat impor migas sebesar USD4,51 miliar meningkat 70,78 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Impor nonmigas USD20,30 miliar atau naik 14,69 persen. Impor tahunan didorong impor nonmigas dengan andil 12,95 persen,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34 persen (YoY). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut. Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Dari eksternal, ketidakpastian terkait kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi meningkatkan pasokan global.
“Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis,” kata Ibrahim.
Pergeseran ini mengaburkan prospek kesepakatan cepat untuk mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu menjadi kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah, termasuk masa depan Selat Hormuz.
Data pasar tenaga kerja AS minggu ini akan dipantau dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk baru tentang langkah kebijakan Fed selanjutnya. Laporan JOLTS pada hari Selasa menunjukkan Lowongan Kerja naik menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada Juni membaik karena kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran menurunkan harga bahan bakar.
Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Kamis, yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.950-Rp17.810 per USD.
(NIA DEVIYANA)