"Jadi ini memperlihatkan bahwa reformasi diarahkan untuk memastikan pasar modal Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi market size, tetapi juga kita mengedepankan dari aspek fundamental dan integritas," ujar Kiki.
Selain itu, Kiki juga menilai penurunan IHSG dalam beberapa waktu terakhir dinilai masih dalam batas kewajaran dan sejalan dengan tren pelemahan bursa saham di kawasan regional.
Sebab, kata dia, tekanan pasar saham tak lepas dari imbas dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, serta tingginya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dunia yang masih ketat.
Selain faktor eksternal, sentimen di dalam negeri belakangan ini juga dipengaruhi oleh keputusan penyesuaian bobot atau rebalancing dari indeks MSCI. Pengumuman yang dirilis pada 12 Mei waktu Amerika Serikat atau 13 Mei waktu Indonesia tersebut sempat memicu tekanan lanjutan ketika bursa kembali dibuka usai libur panjang.
Walau begitu, tingkat koreksinya tercatat masih berada di tahap moderat, yakni merosot 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI dan turun 1,85 persen pada perdagangan 18 Mei 2026.
(Dhera Arizona)