Heru mengatakan kondisi tersebut hampir membuat seluruh produsen rokok legal bercukai mengalami penurunan volume penjualan maupun keuntungan. Sebab para produsen juga tidak bisa serta merta untuk menaikkan harga jual produk untuk menyelamatkan arus kas, karena keterbatasan daya beli masyarakat di samping maraknya opsi rokok ilegal.
Adapun total aset GGRM menurun 2,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama berasal dari persediaan yang turun dari Rp37 triliun menjadi Rp31,76 triliun, sejalan dengan berkurangnya pembelian bahan baku sebagai akibat dari penurunan volume penjualan. Aset tetap mengalami penurunan sebesar 10,2 persen dari Rp21,19 triliun menjadi Rp19,03 triliun. (Febrina Ratna Iskana)