Kenaikan harga energi juga menjadi perhatian investor karena dapat mempersulit langkah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam menurunkan inflasi. Suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menopang imbal hasil obligasi pemerintah dan memperkuat dolar AS.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai perlambatan investasi dalam negeri dan konsumsi rumah tangga masih menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 diperkirakan berada di sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy), meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy.
Namun, peningkatan investasi tersebut masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 27,5 persen yoy. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami kontraksi 7,8 persen yoy, menjadi penurunan pertama sejak kuartal I-2021.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih memiliki kepercayaan terhadap prospek Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.