Sebaliknya, pelaku usaha domestik cenderung menahan ekspansi akibat lemahnya permintaan, tingginya biaya pendanaan, dan ketidakpastian ekonomi.
Pemerintah, lanjutnya, perlu menjaga keseimbangan antara agenda hilirisasi dengan pengembangan sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas, seperti manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi.
Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi di kisaran Rp17.940-Rp18.000 per USD pada perdagangan berikutnya.
(DESI ANGRIANI)