sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Penertiban Tambang Ilegal Dinilai Jadi Angin Segar bagi Saham Timah (TINS)

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
30/07/2026 09:57 WIB
Upaya pemerintah menertibkan aktivitas tambang timah ilegal dinilai menjadi katalis penting bagi PT Timah Tbk (TINS).
Penertiban Tambang Ilegal Dinilai Jadi Angin Segar bagi Saham Timah (TINS). (Foto: PT Timah)
Penertiban Tambang Ilegal Dinilai Jadi Angin Segar bagi Saham Timah (TINS). (Foto: PT Timah)

IDXChannel - Upaya pemerintah menertibkan aktivitas tambang timah ilegal dinilai menjadi katalis penting bagi PT Timah Tbk (TINS).

Penegakan hukum yang lebih ketat diperkirakan mengembalikan pasokan bijih timah ke jalur resmi, sehingga berpotensi mendongkrak penjualan dan kinerja perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

Analis Bahana Sekuritas Jeremy Mikael dalam risetnya menyebut penertiban tambang ilegal dapat mengalihkan bijih timah yang selama ini keluar dari wilayah konsesi PT Timah menuju penampung ilegal maupun smelter pesaing kembali ke rantai pasok resmi perseroan.

Seiring semakin banyaknya penambang rakyat yang masuk ke jalur legal akibat penegakan hukum pemerintah, PT Timah diperkirakan mampu merebut kembali volume penjualan yang hilang.

Bahana memperkirakan kondisi tersebut mendukung peningkatan penjualan logam timah TINS sepanjang 2026 hingga 2028.

Atas prospek tersebut, Bahana memulai cakupan saham TINS dengan rekomendasi buy dan target harga Rp4.400 per unit.

Pada Kamis (30/7/2026) pagi, saham TINS diperdagangkan di level Rp3.520 per unit.

Pandangan positif juga disampaikan analis UOB Kay Hian Benyamin Mikael dan Alden Gabriel Lam dalam riset yang diterbitkan pada 23 Juli 2026.

Menurut mereka, PT Timah menargetkan penjualan timah sebesar 20.000-24.000 ton pada 2026, atau tumbuh sekitar 20-44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut ditopang oleh prospek produksi yang lebih tinggi serta harga timah yang tetap kuat.

UOB memperkirakan volume penjualan pada kuartal II-2026 memang sedikit melemah akibat aktivitas pemeliharaan (maintenance). Namun, kenaikan harga timah diperkirakan mampu menopang kinerja laba perseroan.

Dalam jangka panjang, potensi monetisasi mineral tanah jarang (rare earth) juga dinilai menjadi sumber pertumbuhan baru bagi PT Timah.

Kontribusi bisnis tersebut diperkirakan mulai terlihat pada paruh kedua 2027, bersamaan dengan peluang peningkatan volume penjualan timah.

Meski demikian, UOB Kay Hian mengingatkan masih ada ketidakpastian terkait rencana pengalihan aset timah sitaan negara ke PT Timah. Proses tersebut kembali memasuki tahap penilaian kedua setelah masa berlaku valuasi sebelumnya berakhir.

Aset yang akan dialihkan, yang sebagian besar berupa persediaan (inventory), berpotensi memperkuat basis sumber daya PT Timah. Namun, skema transaksi masih belum diputuskan, apakah melalui rights issue atau mekanisme inbreng, yakni penyetoran aset sebagai pengganti saham baru.

Menurut UOB Kay Hian, investor perlu mencermati hasil valuasi akhir dan struktur transaksi tersebut.

Pasalnya, apabila membutuhkan penerbitan saham baru dalam jumlah besar, aksi korporasi itu berpotensi menimbulkan dilusi terhadap kepemilikan pemegang saham.

Dari sisi valuasi, UOB Kay Hian menilai saham TINS masih menarik.

Perseroan diperdagangkan pada valuasi sekitar 3,7 kali enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) proyeksi 2026, hanya sedikit di atas rata-rata minus satu standar deviasi dalam tiga tahun terakhir.

Selain itu, valuasi TINS masih diperdagangkan dengan diskon sekitar 83 persen dibandingkan perusahaan timah dan rare earth global, sehingga dinilai masih memiliki ruang apresiasi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement