AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
-0.73%
-3.98
IHSG
6883.50
-0.44%
-30.64
LQ45
1009.51
-0.63%
-6.42
HSI
20116.20
-0.27%
-55.07
N225
26604.84
-0.27%
-72.96
NYSE
15080.98
0.3%
+45.11
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,038 / gram

Penguatan Dolar AS Tembus Rekor, Rupiah Keok di Rp14.612

MARKET NEWS
Anggie Ariesta
Jum'at, 13 Mei 2022 16:25 WIB
Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat bahkan mencetak rekor penguatan tertinggi dalam kurun 20 tahun terakhir.
Penguatan Dolar AS Tembus Rekor, Rupiah Keok di Rp14.612 (FOTO: MNC Media)
Penguatan Dolar AS Tembus Rekor, Rupiah Keok di Rp14.612 (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat bahkan mencetak rekor penguatan tertinggi dalam kurun 20 tahun terakhir. Penguatan ini berimbas pada pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan hari ini sebanyak 14 poin di level Rp14.612.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Dolar naik ke level tertinggi baru 20 tahun pada hari ini, karena berlanjutnya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven.
 
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran awal mingguan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan, meskipun pasar tenaga kerja tetap menjadi kekuatan ekonomi AS. Di sisi inflasi, indeks harga produsen menunjukkan perlambatan tajam di bulan April ke kenaikan 0,5% dari lonjakan 1,6% bulan sebelumnya.
 
“Investor telah mencoba untuk menilai seberapa agresif jalur kebijakan bank sentral nantinya,” ungkap Ibrahim dalam risetnya, Jumat (13/5/2022).

Ekspektasi sepenuhnya diperhitungkan untuk kenaikan lain setidaknya 50 basis poin pada pertemuan bank sentral bulan Juni. 
 
Nemun, investor telah condong ke aset safe-haven seperti dolar karena kekhawatiran telah meningkat tentang kemampuan Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi, serta dampak dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus COVID-19 di China yang melemahkan permintaan. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD