Di luar operasional, Ramayana juga mencatat pendapatan keuangan sebesar Rp24 miliar, turun 30 persen. Di samping itu, perseroan juga memperoleh penjualan dari saham treasuri sebesar Rp98 miliar.
Meski penjualan dan laba turun, arus kas dari operasi meningkat 8 persen menjadi Rp960 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan pembayaran kas kepada pemasok yang turun 14 persen menjadi Rp877 miliar di tengah penurunan penerimaan dari kas pelanggan sebesar 6 persen menjadi Rp1,88 triliun.
Perseroan menempatkan investasi berupa deposito berjangka yang secara neto mencapai Rp95 miliar. Namun, perseroan juga tetap merealisasikan belanja modal sebesar Rp95 miliar.
Hingga 31 Maret 2026, kas dan setara kas Ramayana sangat solid mencapai Rp2,19 triliun, naik 49 persen dibandingkan akhir 2025, di luar deposito berjangka Rp145 miliar.
Selain itu, Ramayana juga memiliki invetasi jangka pendek Rp763 miliar, mencerminkan kuatnya posisi keuangan perseroan. Adapun persediaan turun sekitar 34 persen menjadi Rp273 miliar.