Karenanya, Suryanti menilai kesenjangan tersebut sebagai landasan strategis bagi TPIA dalam memperkuat kapasitas produksi, mendorong substitusi impor, sekaligus menciptakan nilai tambah, termasuk peluang kerja di dalam negeri.
Dalam hal ini, pihaknya fokus dalam membangun struktur bisnis yang lebih kokoh, memperdalam integrasi vertikal dan horizontal, menciptakan efisiensi biaya dan keamanan pasokan, serta memperluas dampak ekonomi melalui pembukaan lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
"Langkah pengembangan ekosistem ini menjadi fondasi utama dalam strategi kami mengejar pertumbuhan. Muaranya adalah bagaimana kami bisa membangun sebuah ekosistem yang saling menguatkan di bidang energi, kimia dan infrastruktur, sebagai satu kesatuan yang dapat diandalkan dan siap bersaing di level Asia Tenggara," ujar Suryandi.
Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, Suryandi menjelaskan, Pihaknya terbukti telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara.
Secara kapasitas produksi, Perseroan juga telah memproyeksikan adanya akselerasi yang signifikan, dari sekitar 4,2 juta ton pada 2024, kapasitas terintegrasi TPIA diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 21 juta ton pada 2027, atau tumbuh hampir lima kali lipat seiring ekspansi aset dan integrasi regional yang dijalankan Perseroan.
Dalam mendukung transformasi dan pengembangan bisnis ke level regional, TPIA juga tengah mengintegrasikan aset yang ada di Indonesia dan Singapura untuk mengoptimalkan feedstock, produksi, utilitas, dan logistik secara end-to-end sekaligus memperluas akses pasar kawasan.