Yurizki menjelaskan, saat ini PGEO berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan berinvestasi pada berbagai proyek quick win untuk meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kinerja keuangan perseroan secara berkelanjutan.
"Di saat yang sama, PGEO juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi. Dalam jangka panjang, perseroan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang telah teridentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola," katanya.
Beberapa proyek kunci PGEO untuk mencapai target tersebut antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2×55 MW), Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), serta Lahendong Unit 7 & 8 (2×20 MW) dan Binary Unit (10 MW). PGEO juga tengah mengembangkan sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW.
Selain itu, PGEO juga terus memperkuat sinergi antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Pada Agustus 2025, PGEO menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW.