Di sisi lain, bisnis nikel semakin mendominasi kinerja perseroan. Kontribusi sektor nikel mencapai 97 persen dari total pendapatan dengan nilai USD345,9 juta atau tumbuh 16 persen dibandingkan kuartal I-2025.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan nikel sebesar 40 persen serta peningkatan ASP sebesar 29 persen secara tahunan.
Selain itu, perseroan juga menyiapkan strategi pengamanan pasokan bahan baku nikel di tengah potensi perubahan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan.
Perseroan mengungkapkan, pasokan bijih nikel dari PT Position (POS) saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan smelter internal. Namun, pada 2026 kontribusi pasokan dari POS diperkirakan meningkat signifikan.
"Tahun ini kami berharap dapat memenuhi lebih dari 50 persen kebutuhan konsumsi bijih nikel untuk smelter internal. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 10 persen," tutur manajemen.
(DESI ANGRIANI)