Produksi Migas di Indonesia Tak Pasti, Ini kata Kepala SKK Migas
Market News
Fahmi Abidin
Senin, 14 Oktober 2019 18:00 WIB
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, mengatakan produksi minyak di Indonesia terus mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak pasti setiap tahunnya. Mengapa?
Produksi Migas di Indonesia Tak Pasti, Ini kata Kepala SKK Migas. (Foto: Ist)

IDXChannel – Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, mengatakan produksi minyak di Indonesia terus mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak pasti setiap tahunnya. Mengapa demikian?

Diungkapkan Dwi dalam special event IDX Channel bertajuk “Economic Outlook, membangun Iklim Investasi di Sektor Migas – Peluang dan Tantangan Energi Baru Terbarukan Tahun 2020”, di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, pada Senin (14/10), naik turunnya produksi minyak dipengaruhi penemuan minyak di Indonesia yang tidak dapat dipastikan.

Dwi lantas memberi contoh bahwa kenaikan produksi pada 1978 dan 2012 dikarenakan baru ditemukannya sumber minyak baru seperti di Duri, sedangkan untuk produksi gas juga alami kenaikan karena ditemukannya sumber baru Natuna.

“Kalau kita lihat setelah 2012, terjadi lagi penurunan, Jadi oleh karena itu kalau kita lihat disini penurunan ini terjadi sampai tentusaja nanti bisa dinaikkan lagi dengan ketemunya cadangan,” ujarnya.

Menurutnya perlu diadakan sosialisasi untuk memperkenalkan 128 cekungan yang memiliki potensi ke cadangan besar. Dwi juga menjelaskan bahwa hal ini juga menjadi penting karena dapat membantu meningkatkan tingkat produksi migas dan mencegah keterlambatan penemuan cadangan migas yang menyebabkan penurunan produksi secara drastis.

Kepala SKK Migas ini menjelaskan bahwa sektor ini sangat membutuhkan investasi dari Investor untuk dapat menerapkan 4 strategi untuk mencegah penurunan produksi migas. Pertama yakni bagaimana mengoptimalkan tingkat produksi yang ada dengan memanfaatkan cadangan minyak yang ada (block door existing). Menurutnya jika perusahaan yang bergerak di sektor ini tidak melakukan apa – apa maka akan menimbulkan natural decline sebesar 20%.

“Jadi kalau dalam analisa DEN dalam rencana strategi umum Migas Nasional, seharusnya berada di sekitar 600 ribu barel oil per hari, namun saat ini kita masih bisa memproduksi diatas 750 ribu per hari karena memang ada upaya – upaya (meningkatkan produksi),” Jelasnya.

Kedua adalah bagaimana cara mempercepat sumber ke produksi dengan cara memecah cadangan supaya proses produksi lebih cepat selagi menunggu ditemukannya cadangan minyak yang lebih besar.

“Ini kita dorong supaya kita bisa mempercepat merubah dari cadangan menjadi produksi,” lanjutnya.

Strategi ketiga, adalah mendorong Implementasi IOR (Improved Oil Recovery). Dwi juga mengakui bahwa hal ini membutuhkan waktu namun dirinya berharap pada 2023 sudah mulai berdampak hasilnya dengan memperbarui cadangan minyak di Indonesia.

Strategi keempat yakni eksplorasi, namun hal ini menggunakan biaya yang besar sehingga Dwi berharap banyak investor yang berinvestasi di bidang Migas sehingga diharapkan dampaknya akan dirasakan pada 2030. “Memang kita harapkan di tahun 2030-an untuk bisa mendorong mulai dari ada kenaikan produksi dari saat ini ada 770 ribu barel perhari menjadi kembali ke 1 juta barel per hari,” tandasnya. (*)

Baca Juga