IDXChannel - Harga emas dunia turun 0,43 persen ke kisaran USD4.596,32 per troy ons pada Jumat (16/1/2026) lalu, melanjutkan pelemahan hari sebelumnya.
Koreksi tersebut seiring meredanya permintaan aset lindung nilai dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Trading Economics, ketegangan geopolitik terkait Iran turut mereda setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan kemungkinan menunda aksi militer.
Ia menilai penindakan terhadap aksi protes mulai melunak dan eksekusi dalam skala besar tidak akan dilakukan.
Di saat yang sama, data ekonomi AS yang lebih kuat memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter ketat akan dipertahankan lebih lama.
Kondisi ini mendorong investor kembali mengurangi taruhan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Pasar kini secara luas memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan pada pertemuan bulan ini, dengan pelonggaran berikutnya sepenuhnya diperkirakan baru terjadi pada pertengahan 2026.
Meski terkoreksi, harga emas masih bertahan dekat level tertinggi sepanjang masa dan tetap membukukan kenaikan mingguan. Sepanjang pekan lalu, emas tercatat naik 1,92 persen, ditopang reli kuat pada awal pekan.
Prospek Sepekan
Survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan pandangan Wall Street masih terbelah terkait prospek jangka pendek emas, sementara investor ritel justru semakin menguatkan bias bullish.
“Harga emas berpotensi turun,” ujar Kepala Strategi Valuta Asing Forexlive.com, Adam Button.
“Komentar pada Jumat soal Hassett menegaskan besarnya taruhannya bagi independensi The Fed. Menurut saya, taruhannya bahkan lebih besar pada putusan Mahkamah Agung (MA) terkait tarif, yang saya perkirakan akan berlawanan dengan Presiden,” imbuh dia.
“Naik. Aturan Pasar Newsom nomor satu: jangan melawan tren. Tren di logam, termasuk emas, masih naik,” kata Analis Pasar Senior Barchart.com, Darin Newsom.
Sementara, Penerbit VR Metals/Resource Letter, Mark Leibovit mengatakan, “Puncak kemungkinan sudah tercapai pada emas dan perak. Risiko perak ke zona 50-60 dan emas ke 3.500. Saya berada di posisi kas.”
Sebanyak 16 analis berpartisipasi dalam Survei Emas Kitco News. Hanya separuh analis Wall Street yang mempertahankan pandangan bullish untuk jangka pendek.
Delapan ahli (50 persen) memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini, sementara empat analis (25 persen) memprediksi penurunan. Empat analis lainnya (25 persen) memperkirakan emas akan bergerak konsolidatif.
Sementara itu, 247 suara masuk dalam jajak pendapat daring Kitco. Investor ritel kian bullish setelah emas mencetak level tertinggi baru.
Sebanyak 192 trader ritel (78 persen) memperkirakan harga emas akan naik pekan ini, 27 responden (11 persen) memprediksi penurunan, dan 28 investor (11 persen) memperkirakan pergerakan mendatar.
Kalender data ekonomi pekan ini memuat rilis inflasi dan pertumbuhan penting. Namun, pasar diperkirakan tetap akan banyak mengambil sinyal dari perkembangan geopolitik.
Pasar AS akan libur pada Senin untuk Hari Martin Luther King Jr. Di sisi lain, World Economic Forum (WEF) dimulai di Davos, Swiss. Pada Selasa, pasar akan menerima data ADP Employment mingguan AS.
Rabu akan dirilis Pending Home Sales Desember, dan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berbicara di WEF. Kamis pagi, pasar menantikan PDB final kuartal III AS, inflasi PCE untuk Oktober dan November, serta klaim pengangguran mingguan.
Pekan ditutup dengan rilis S&P Flash PMI Manufaktur dan Jasa Januari pada Jumat, bersamaan dengan indeks sentimen konsumen final University of Michigan. (Aldo Fernando)