Secara keseluruhan, laba sektor CPO sepanjang 2025 diproyeksikan tumbuh 35 persen secara tahunan menjadi Rp9,4 triliun. Indo Premier menilai hasil emiten secara umum akan sejalan dengan estimasi internal, bahkan berpotensi melampaui konsensus pasar, terutama untuk TAPG dan LSIP.
Meski prospek jangka pendek masih konstruktif, Indo Premier menyoroti risiko baru dari sisi kebijakan. Penundaan implementasi biodiesel B50 hingga setelah paruh kedua 2026 dinilai masih sesuai ekspektasi.
Namun, rencana kenaikan pungutan ekspor (export levy) CPO menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 10 persen, yang diperkirakan berlaku mulai 1 Maret 2026, berpotensi menekan harga FOB agar tetap kompetitif di pasar global.
Di sisi lain, terdapat potensi penopang harga CPO ke depan. Pasokan Malaysia diperkirakan menurun karena memasuki fase “resting year”, sementara produksi Indonesia bisa terganggu oleh rencana pemerintah menyita tambahan 4–5 juta hektare lahan ilegal pada 2026.
Dengan kombinasi peluang dan risiko tersebut, Indo Premier menyatakan tengah meninjau kembali peringkat (rating) sektor CPO. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.