Fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin udara di Asia, sehingga mendorong permintaan batu bara dari sektor pembangkit listrik. Di sisi lain, penurunan debit sungai Mahakam dan Barito yang menjadi jalur utama tongkang batu bara Indonesia berpotensi menghambat pengiriman ekspor.
Pada peristiwa El Niño 2023, ekspor batu bara Indonesia tercatat turun sekitar 5 persen secara tahunan. Namun, menurut Yoga, kondisi 2026 lebih ketat karena pasar sudah menghadapi pembatasan pasokan akibat kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Pemerintah sebelumnya menetapkan kuota RKAB batu bara 2026 sebesar 600 juta ton, turun dari realisasi sebelumnya sekitar 778 juta ton.
Kebijakan tersebut dinilai telah memangkas sekitar 178 juta ton pasokan dari pasar batu bara laut global.
Selain itu, wacana kenaikan kewajiban domestic market obligation (DMO) dari 25 persen menjadi 30 persen dinilai dapat semakin memperketat pasokan ekspor Indonesia.