Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah uang yang beredar di sistem perbankan, menurunkan biaya pendanaan bank, serta membantu menurunkan suku bunga kredit. Setiap pengurangan 1 persen pada GWM diperkirakan dapat menambah likuiditas hingga Rp90 triliun.
Meski ada tantangan likuiditas yang ketat, prospek keuntungan bank-bank besar Indonesia di 2025 diprediksi lebih baik dibandingkan 2024.
Dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih lambat, ketatnya likuiditas tidak diperkirakan memperburuk kinerja bank-bank besar tersebut, dan stabilitas margin bunga bersih (NIM) diperkirakan tetap terjaga.
“Secara khusus, kami berpendapat bahwa dengan pedoman dari bank-bank besar yang mengindikasikan pertumbuhan pinjaman yang lebih lambat pada 2025 dibandingkan 2024, likuiditas sistem perbankan yang ketat seharusnya tidak akan memburuk,” ujar analis Verdhana.
Dalam catatan terbaru Verdhana, broker tersebut menganalisis tren rasio penghapusbukuan atau penghapusan pinjaman (write-off) bulanan dari bank-bank besar sebagai indikator kualitas aset di masa depan.