Secara sektoral, tekanan diperkirakan masih akan dominan pada sektor konsumsi, kesehatan, dan saham berbasis domestik yang sensitif terhadap pelemahan daya beli dan depresiasi rupiah.
"Pada perdagangan sebelumnya, sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan setelah turun lebih dari 3 persen dipicu pelemahan saham-saham farmasi dan healthcare seperti MERK, SILO, KLBF, SIDO, hingga PRDA.
Pelemahan ini mencerminkan rotasi dana investor menuju sektor yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak global," ujarnya.
Sebaliknya, sektor basic industry dan saham berbasis energi masih berpotensi lebih kuat karena didukung kenaikan harga minyak dan komoditas global. Saham-saham petrokimia, energi, dan emiten yang memiliki eksposur ekspor diperkirakan masih menjadi pilihan defensif investor di tengah tingginya volatilitas pasar.
Secara teknikal, Hendra mengatakan soal posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi bearish setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.900. Pola lower high dan lower low yang terbentuk dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan, terutama dari investor asing. Area support penting saat ini berada pada kisaran 6.700–6.750, dan apabila level tersebut ditembus maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 6.640.
"Namun di sisi lain, peluang technical rebound tetap terbuka mengingat sejumlah saham unggulan sudah mulai memasuki area oversold setelah koreksi cukup dalam sejak awal Mei," kata dia.