Purbaya mengisyaratkan bahwa realisasi angka operasi pasar ini sebenarnya merupakan data sensitif yang awalnya tidak direncanakan untuk dibuka ke publik.
Namun, ia menilai kebijakan intervensi tersebut terbukti efektif meredam kepanikan pasar, tecermin dari pergerakan yield SBN dengan tenor acuan 10 tahun yang mampu bertahan stabil di kisaran 6,7 persen.
"Enggak apa-apa biar anda tahu saya intervensi sedikit. Terus (yield) 10 tahun relatif stabil," ujar Purbaya.
Operasi pasar ini bergulir di tengah kondisi mata uang Garuda yang kian terpuruk menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan siang ini.
Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada pagi hari, nilai tukar rupiah terpantau bergerak semakin liar menjauhi ambang batas tersebut.