"Memang banyak permainan rumor yang nggak jelas, yang ditiupkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab, ternyata yang S&P keluarnya tetap BBB dan outlook-nya stabil. Artinya, memang mereka melihat apa yang dikerjakan oleh pemerintah di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto itu semuanya bergerak ke arah yang benar," katanya.
Dia juga meluruskan narasi terkait defisit APBN yang keliru. Pada kuartal I-2026, defisit APBN mencapai 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang kemudian dinarasikan bahwa defisit sepanjang tahun akan menjadi 3,6 persen, di atas batas aman.
"Waktu angka triwulan I keluar 0,9 persen, mereka kali empat jadi defisitnya 3,6 persen. Jadi, enggak berkesinambungan, cara hitungan itu salah, cuma ya sudah, itu yang dibeli (dipercaya) oleh pasar pada waktu itu," katanya.
Ketua LPS periode 2020-2025 itu menjelaskan bahwa defisit yang besar pada kuartal I disebabkan oleh tingginya penyerapan anggaran yang secara siklikal rendah pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah sengaja menerapkan strategi percepatan belanja (front-loading) agar dampak stimulus ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
"Walaupun kita sebutkan kenapa itu tinggi waktu itu, karena kita tarik ke depan belanja pemerintah supaya merata sepanjang tahun supaya dampak ke ekonomi lebih bagus, tetap saja orang enggak percaya. Dengan (pengumuman S&P) ini mudah-mudahan mereka makin percaya," katanya.
(Rahmat Fiansyah)