“China tidak ingin memutus total pasokan ke AS, tapi mereka ingin menggunakan itu sebagai ancaman,” kata Jeorg Wuttke, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group. Ia menambahkan, Beijing tetap ingin tampil sebagai pemasok yang andal, sekaligus memperingatkan dampak dari kebijakan AS.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2024, ekspor rare earth China naik 6 persen menjadi 55.431 metrik ton. Namun karena harga yang fluktuatif, nilainya justru turun 36 persen ke angka USD488 juta.
Saat perang dagang memuncak, produksi mineral ini di China sempat nyaris berhenti karena ketatnya regulasi dan anjloknya permintaan asing. Sementara itu, AS mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti Greenland dan Ukraina. Meski punya cadangan sendiri, eksplorasi domestik belum berkembang karena mahal dan berdampak lingkungan.
“Pembangunan tambang baru rata-rata butuh waktu 18 tahun untuk bisa beroperasi,” kata laporan S&P Global.
Beberapa perusahaan AS pun mulai mengambil inisiatif. Tesla termasuk yang pertama mengajukan lisensi pembelian rare earth ke China. Menurut Reuters, ada sinyal bahwa proses persetujuan bisa lebih cepat seiring mencairnya hubungan dua negara.