"Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Iran terhadap kapal kargo," kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/7/2026).
Beralih ke faktor dalam negeri, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tengah menghadapi ujian berat menyusul rentetan sentimen negatif yang beruntun sepanjang kuartal kedua tahun ini.
Berbagai variabel makro seperti mencuatnya kasus korupsi kakap, kecemasan pelaku pasar terhadap postur ketahanan fiskal pemerintah pasca-defisitnya neraca perdagangan periode Mei, lonjakan laju inflasi, hingga efek rebalancing indeks MSCI menjadi pemicu utama larinya modal keluar.
Tekanan di sektor riil semakin diperparah oleh rilis data performa industri manufaktur nasional yang menunjukkan sinyal kontraksi cukup dalam.
"Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun," kata Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)