Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing, mengingat komoditas ini bersaing ketat di pasar minyak nabati global.
Penurunan harga, bagaimanapun, tertahan oleh melemahnya ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, yang turun 0,25 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat harga lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing.
Sementara itu, harga minyak mentah turun lebih dari 1 persen pada Jumat dari level tertinggi berbulan-bulan.
Meski begitu, harga masih diperkirakan mencatatkan kenaikan tahunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya premi risiko akibat potensi serangan Amerika Serikat terhadap Iran yang dapat mengganggu pasokan.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel. (Aldo Fernando)