AALI
8300
ABBA
226
ABDA
7050
ABMM
840
ACES
1370
ACST
240
ACST-R
0
ADES
1970
ADHI
970
ADMF
8175
ADMG
166
ADRO
1310
AGAR
380
AGII
1095
AGRO
1095
AGRO-R
0
AGRS
426
AHAP
66
AIMS
352
AIMS-W
0
AISA
228
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3230
AKSI
480
ALDO
925
ALKA
246
ALMI
250
ALTO
380
Market Watch
Last updated : 2021/06/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
478.24
-0.14%
-0.66
IHSG
6089.04
0.14%
+8.65
LQ45
895.20
-0.08%
-0.70
HSI
28638.53
-0.71%
-203.60
N225
29441.30
0.96%
+279.50
NYSE
16662.42
-0.2%
-32.51
Kurs
HKD/IDR 1,830
USD/IDR 14,220
Emas
853,049 / gram

Research Corner MNC Sekuritas Bagikan Strategi Investasi Saat "Sell in May and Go Away"

MARKET NEWS
Tia Komalasari/IDXChannel
Kamis, 06 Mei 2021 19:53 WIB
Research Analyst MNC Sekuritas Aqil Triyadi akan tampil dalam Instagram Live Research Corner berjudul “Sell in May and Go Away” pada Kamis (6/5/2021).
Research Analyst MNC Sekuritas Aqil Triyadi akan tampil dalam Instagram Live Research Corner berjudul “Sell in May and Go Away” . (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Istilah Sell in May and go Away merupakan istilah dalam investasi dan perdagangan saham yang populer.Persis seperti namanya, jargon ini  muncul saat investor pasar modal beraktivitas di market pada bulan Mei. 

Biasanya di bulan ke-5 ini, investor pasar modal akan melakukan aksi jual dengan tujuan untuk menghindari terjadinya penurunan kinerja pasar modal di bulan Mei sampai Oktober. Kemudian, investor baru mulai melakukan akumulasi saham di akhir tahun. 

Meskipun fenomena ini sering terjadi, tetaplah menarik untuk mengetahui bagaimana prediksi pasar saham Indonesia di Mei 2021.

Hal ini pun dikupas oleh Research Analyst MNC Sekuritas Aqil Triyadi dalam Instagram Live Research Corner berjudul “Sell in May and Go Away” pada Kamis (6/5/2021). 

Menurut Aqil, return dari awal bulan Mei sampai bulan Oktober di Indonesia terjadi penurunan dalam 10 hingga 25 tahun terakhir. Dari tahun 1995 sampai 2020, rata-rata return IHSG hanya 0,80% sedangkan dari November ke April untuk periode yang sama, rata-rata return IHSG mencapai 13,15%.

“Untuk itu investor melihat peningkatan cuan lebih tinggi terjadi pada bulan November hingga April. Secara historis, IHSG cenderung terkoreksi pada bulan Mei selama 10 tahun terakhir sejak tahun 2010. Tercatat 6 kali koreksi dan 5 kali penguatan. Sementara itu, pada periode November ke April hanya 1 kali terjadi koreksi yakni pada periode November 2019 hingga April 2020,” jelas Aqil.

Selain pola pergerakan IHSG yang cenderung terkoreksi dari Mei hingga Oktober, return IHSG juga patut dicermati. Berdasarkan data selama 10 tahun terakhir ini, IHSG memberikan return rata-rata sebesar 2,6% pada bulan Mei hingga Oktober. Padahal, lanjutnya, pada bulan November hingga April tercatat rata-rata return IHSG dalam 10 tahun terakhir jauh lebih tinggi yaitu 5,3%.

Apakah "Sell in May and Go Away" merupakan pola berulang yang kembali terjadi di tahun 2021? Apakah jargon ini sekadar mitos atau fakta yang benar-benar terjadi? Bagaimana para investor menyikapi kondisi tahun ini? Simak ulasan selengkapnya dalam IGTV MNC Sekuritas yang dapat Anda akses melalui link: bit.ly/MNCSresearchcorner. (TIA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD