IDXChannel – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai sudah mulai tercermin dalam harga minyak dunia saat ini.
Namun, pergerakan harga masih berpotensi berlanjut, tergantung pada dinamika risiko yang berkembang ke depan.
Dalam riset yang terbit pada 23 Februari 2026, Indo Premier Sekuritas menilai harga Brent saat ini telah sebagian merefleksikan premi risiko dari memanasnya hubungan AS-Iran. Iran sendiri memproduksi sekitar 3,5 juta barel per hari atau setara sekitar 3 persen pasokan minyak global.
Menariknya, sekitar 80-90 persen ekspor minyak Iran saat ini mengalir ke China. Jika pasokan tersebut terganggu, China berpotensi meningkatkan pembelian dari pemasok laut (seaborne) lainnya.
Kondisi ini dinilai dapat menjadi katalis positif tambahan bagi harga minyak global.
Meski demikian, Indo Premier menilai dampak langsung terhadap keseimbangan pasokan-permintaan global baru akan terasa jika terjadi skenario ekstrem.
Di antaranya serangan militer terhadap Pulau Kharg, fasilitas ekspor utama Iran yang berada sekitar 25 kilometer dari pesisir selatan Iran di Selat Hormuz, atau perubahan rezim yang memicu kekacauan domestik dan mengganggu produksi minyak.
Kemungkinan penutupan Selat Hormuz dinilai tidak realistis, baik secara fisik maupun geopolitik. Selat tersebut mengendalikan sekitar 20-25 persen aliran minyak global. Menurut Indo Premier, langkah itu justru berisiko merugikan sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah.
Karena itu, wacana penutupan Selat Hormuz lebih bersifat ancaman retoris ketimbang skenario dasar.
Seiring perubahan dinamika tersebut, Indo Premier melakukan sedikit revisi terhadap proyeksi sektor minyak dan gas (migas) untuk tahun buku 2026. Sebelumnya, sikap netral didasarkan pada asumsi pasar minyak masih dalam kondisi oversupply hingga kuartal II atau III-2026.
Namun, percepatan permintaan dari China, yang tercermin dari lonjakan persediaan minyak mentah Negeri Tirai Bambu, serta produksi shale oil AS yang lebih rendah dari perkiraan dan penurunan signifikan stok minyak AS, membuat keseimbangan pasar diperkirakan mengetat lebih cepat.
Dengan asumsi tersebut, momentum masuk ke sektor migas dinilai lebih tepat pada semester I-2026.
Berdasarkan perubahan pandangan itu, Indo Premier menaikkan peringkat sektor migas menjadi overweight.
Meski premi risiko geopolitik menjadi tambahan sentimen positif, pendorong utama kenaikan rekomendasi tetap berasal dari fundamental pasokan yang lebih ketat dan akselerasi permintaan China.
Saham pilihan utama (top pick) Indo Premier adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan rekomendasi beli dan target harga Rp2.000 per saham.
Indo Premier memperkirakan laba bersih kuartal IV-2025 akan melonjak secara kuartalan, didorong ekspor konsentrat dari AMMN yang diproyeksikan membukukan pendapatan hingga USD1 miliar pada periode tersebut, serta kontribusi penuh 70 persen kepemilikan di Blok Corridor pasca akuisisi Repsol.
Secara taktis, investor disarankan mengambil untung jika ketegangan Iran kembali meningkat dalam jangka pendek.
Namun, tanpa adanya gangguan besar di Pulau Kharg, yang menjadi pusat fasilitas ekspor minyak Iran, harga minyak berpotensi terkoreksi hingga sekitar USD5 per barel, atau kembali ke kisaran USD65 per barel. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.