Penggunaan teknologi CT-Lanic ini turut didukung oleh pemerintah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadiki memaparkan, berdasarkan data Globocan 2022, kanker payudara masih menjadi momok menakutkan dengan 66.271 kasus baru.
Menurutnya, tanpa intervensi teknologi dan deteksi dini yang mumpuni, angka ini diprediksi melonjak hingga 70 persen pada 2050.
“Melalui integrasi CT-Linac, radiasi dapat dimaksimalkan untuk menargetkan tumor sekaligus meminimalkan risiko pada organ sehat. Ini merupakan lompatan signifikan menuju perawatan kanker yang lebih tepat, lebih aman, dan benar-benar berpusat pada pasien,” tutur Budi.
Apalagi, tambah dia, selama ini akses layanan radioterapi di Indonesia masih menghadapi tantangan waktu tunggu. Hingga Juni 2025, sekitar 22 persen dari 57 pusat layanan radioterapi di Indonesia melaporkan waktu tunggu pasien lebih dari satu bulan.
Sementara itu, Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Denny Handoyo Kirana, SpOnkRad (K), menjelaskan bahwa teknologi CT-Lanic di MRCCC Siloam memiliki keunggulan tersendiri dibanding dengan radioterapi konvensional.
Radioterapi konvensional prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu, sedangkan Integrated CT-LINAC menyederhanakan alur kerja dalam satu sesi singkat. Pasien hanya membutuhkan waktu 15-25 menit untuk persiapan hingga penyinaran tanpa berpindah posisi.
“Melalui pencitraan CT harian dan radioterapi adaptif, setiap sesi terapi dapat disesuaikan dengan anatomi pasien. Ini meningkatkan presisi sekaligus mengurangi paparan radiasi yang tidak perlu pada jaringan sehat,” jelas dr. Deny.
Sinergi Global Indonesia-Tiongkok
Proyek ambisius ini juga melibatkan United Imaging Healthcare dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT). Kerja sama tersebut diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahaman untuk pengembangan solusi kecerdasan buatan di bidang kesehatan.
President of International Business United Imaging Healthcare Group Dr. Jusong Xia, Ph.D, menyebut kemitraan ini sebagai bukti nyata dampak klinis dari inovasi medis Tiongkok bagi pasien di Indonesia.
“Bersama MRCCC Siloam, kami berupaya menghadirkan inovasi medis mutakhir dalam dampak klinis nyata untuk memperkuat sistem kesehatan global,” ungkap dia.
(Nadya Kurnia)