Ia menilai pengunduran diri pimpinan bank sentral tersebut berlangsung bersamaan dengan tren pelemahan rupiah akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Ibrahim menyoroti adanya dugaan dorongan terhadap BI agar menyesuaikan kebijakan moneter dengan arahan pemerintah.
"Ini membuat presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi Bank Indonesia," ujarnya.
Dari sentimen eksternal, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz, sehingga memicu kenaikan harga minyak mentah.
Ibrahim menjelaskan bahwa berdasarkan informasi terkini, intensitas lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz tercatat mengalami penurunan.
Pada saat yang sama, arus navigasi melalui Selat Bab el-Mandeb turut melambat menyusul serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi.