Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan.
Dari sentimen domestik, kata Ibrahim, meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian. Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor di antaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG).
Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Kemudian, apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik.
Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah umumnya mengandalkan 'bantal fiskal' (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (rejeki nomplok/windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.