Meski berpeluang melanjutkan penguatan, Lukman memperkirakan ruang apresiasi rupiah masih dibatasi oleh sentimen eksternal dan domestik.
Dari sisi global, memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menopang lonjakan harga minyak mentah, yang memicu aksi pemburu aset berisiko rendah (safe haven) serta menekan mata uang negara berkembang.
Di samping itu, potensi kenaikan harga energi memicu kecemasan terhadap inflasi yang dapat memperberat beban neraca perdagangan negara net-impor minyak seperti Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, kehati-hatian investor terpelihara akibat isu seputar kepemimpinan dan stabilitas institusional di regulator moneter.
"Sentimen domestik masih relatif lemah, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan independensi BI," kata Lukman.